Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Aksi Massa Manokwari dan Jayapura Dipicu Konten Rasis di Media Sosial

Selasa, 20 Agustus 2019, Agustus 20, 2019 WIB Last Updated 2020-10-28T20:18:31Z

METRO24JAM.CO - Manokwari, Kerusuhan terjadi di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8). Gedung DPRD Manokwari pun dibakar massa.

Seperti dikutip dari Antara, aksi di Manokwari ini ditengarai akibat kemarahan masyarakat Papua sebagai buntut dari peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur serta Semarang Jawa Tengah beberapa hari lalu.

Menurut Kadiv Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, kerusuhan bukan hanya terjadi di Gedung DPRD Manokwari. Massa yang terdiri dari mahasiswa tersebut masih berkumpul di beberapa titik, seperti di perempatan jalan.

Berikut fakta-fakta kerusuhan yang terjadi di Manokwari seperti dikutip dari Liputan6.com:

Massa Aksi di Manokwari

Demonstrasi memprotes kekerasan dan pengusiran mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya membuat lalu lintas di Kota Manokwari macet total.
Sejumlah ruas jalan di Manokwari, terutama jalan Yos Sudarso yang merupakan jalan utama kota Manokwari diblokade massa yang mengakibatkan aktivitas masyarakat maupun arus lalu lintas lumpuh.
Tidak hanya memblokade jalan saja, menurut informasi yang dikutip dari Antara, dalam aksi tersebut warga juga menebang pohon dan membakar ban di jalan raya.
Aparat kepolisian Polda Papua Barat dan Polres Manokwari mulai turun ke jalan guna mengendalikan situasi aksi protes warga atas insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya tersebut.
Menurut Simon, warga jalan Sanggeng Manokwari, bahwa aksi ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat Papua terhadap insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya tersebut.
Simon menambah bahwa aksi damai ini agar pemerintah secepatnya menyelesaikan permasalahan mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang agar mereka dapat kuliah dengan baik.

Negosiasi Gagal

Pangdam XVIII/Kasuari, Papua Barat Mayjen TNI Joppye Onesimus Wayangkau dan Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak menemui demonstran di Manokwari untuk bernegosiasi. Namun, pertemuan terkait rusuh Manokwari itu tidak berlangsung mulus. Massa yang ikut negosiasi tersebut tiba-tiba melempar dua tokoh itu dengan benda tumpul, seperti kayu.

Petugas langsung mengamankan Pangdam dan Kapolda Papua Barat ke tempat yang aman. Petugas juga melempar gas air mata untuk menghalau massa agar tidak maju ke arah petugas. Warga yang ada di sekitar lokasi negosiasi rusuh Manokwari kemudian berlindung di belakang polisi.

Meski begitu, hingga saat ini, polisi, TNI dan Wakil Gubernur Papua Barat masih berupaya bernegosiasi dengan pengunjuk rasa di Manokwari. Kadiv Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini massa berkonsentrasi di satu titik.
"Negosiasi masih dilakukan, Kapolda, Pangdam dan Wagub. Mereka langsung temui pengunjuk rasa," kata Dedi.
Dedi menyampaikan, saat ini pasukan kepolisian mundur terlebih dahulu untuk meredam agar massa unjuk rasa tenang.
"Kalau sudah tenang, bertiga yaitu kapolda, pangdam dan wagub akan menemui massa lagi," kata Dedi.
Dedi juga mengatakan, kepolisian telah meminta tokoh masyarakat Papua ikut meredam agar massa unjuk rasa tenang.

Bandara Didemo

Sejumlah ruas jalan di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, pada Senin (19/8/2019) siang diblokade massa dengan membakar ban sebagai bentuk protes insiden kekerasan dan pengusiran mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya pada 16 Agustus 2019.

Massa aksi mencoba merusak sejumlah fasilitas umum di sepanjang ruas jalan Kota Sorong dihalangi aparat kepolisian dengan tembakan peringatan.

Pantauan Antara di kawasan Bandara Domine Eduard Osok Sorong, massa masuk ke kawasan bandara dan melempar sejumlah fasilitas yang ada meski sempat dihadang aparat kepolisian setempat dengan tembakan peringatan.

Jayapura Juga Unjuk Rasa

Kerusuhan di Kota Manokwari, Papua Barat, berbuntut terhadap aksi berantai di kawasan Jayapura. Hal itu dibenarkan oleh Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Eko Daryanto. "Jayapura baru mau jalan. Aksinya," tutur Eko saat dihubungi Liputan6.com.

Menurut Eko, peserta aksi unjuk rasa berangkat dari Universitas Cendrawasih, sekitar 3 kilometer dari Jayapura. "Aksi demo respons dari Manokwari. Jadi Manokwari aksi, Jayapura ikut aksi. Cuma baru kumpul. Biasa, demonstrasi," jelas dia.

TNI masih menunggu koordinasi dari kepolisian. Sementara, lanjut Eko, pihaknya sudah bersiap untuk ikut mengamankan jalannya aksi di Monokwari. "Kita siaga saja," Eko menandaskan.

Penyebab Rusuh


Kadiv Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, rusuh Manokwari dan unjuk rasa di Jayapura diduga terpicu oleh pengepungan asrama dan kekerasan terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya.

Mereka juga terprovokasi dengan konten rasisme dan diskriminatif terhadap warga papua yang beredar di sosial media.

"Diduga mereka terprovokasi dengan konten yang disebar di sosmed. Konten ini membakar mereka yang dianggap aksi mereka diskriminasi," kata Dedi.

Oleh karena itu, Polri memburu pemilik akun yang menyebar konten provokatif tersebut.

"Tim Siber Bareskrim langsung melakukan profiling dan mengecek siapa pemilik akun tersebut," lanjut Dedi.

Akibat provokasi ini, warga dan mahasiswa di Papua Barat memblokir sejumlah jalan di Manokwari. Mereka juga membakar sejumlah fasilitas publik. Dua di antaranya adalah Gedung DPRD Papua Barat dan eks kantor Gubernur Papua Barat.

"Selebihnya masih didata," ujar Dedi.

Lukai Polisi
Dedi menyebut, ada korban luka dalam kerusuhan Manokwari, Papua Barat. Korban tersebut berasal dari anggota kepolisian.

"Saat ini, korban tiga anggota. 1 Kaorops, 2 anggota," ujar Dedi.

Ketiga korban tersebut terluka setelah terkena lemparan batu dari massa. Kala itu, kata dia, polisi melakukan negosiasi dengan tokoh masyarakat. "Namun saat negosiasi, ada lemparan batu dari masyarakat," ujar dia.


Lapas Sorong Terbakar


Gedung perkantoran di kompleks Lapas Sorong terbakar setelah napi/tahanan membuat kericuhan. Pihak Lapas sedang mendata jumlah napi/tahanan yang kabur.

"Sel tahanan lapas Blok A, B, C tidak terbakar, yang terbakar hanya untuk perkantoran registrasi di depan lapas," ujar Kapolres Sorong Kota AKBP Mario Christy P Siregar saat dihubungi, Senin (19/8/2019).

Kericuhan di dalam Lapas Sorong terjadi sekitar pukul 15.00 WIT. Saat itu, napi/tahanan belum masuk ke sel.

"(Napi/tahanan) berteriak-teriak dari dalam dan menghancurkan pintu-pintu," sambungnya.

Kondisi di Lapas Sorong sudah terkendali. Polisi sudah membuka ruas jalan di depan Lapas. Sementara Kalapas Sorong menurut Mario masih mendata para napi/tahanan yang kabur.

Sebelumnya, Kabag Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Ade Kusmanto mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, napi Lapas Sorong diprovokasi massa di luar lapas. Setelahnya, terjadi kericuhan hingga berujung terbakarnya bangunan.

"Mereka melempari gedung lapas sehingga memprovokasi penghuni lapas, memicu emosional para narapidana sehingga terjadi kerusuhan berujung adanya perlawanan kepada petugas dan pelarian dan pembakaran," imbuh Ade.

Menurut Ade, satu orang petugas lapas terluka dalam kejadian ini.


Cegah Hoax, Internet di Papua Diperlambat

Kementerian Komunikasi dan Informatika sepat melakukan pelambatan akses internet di beberapa wilayah Papua untuk mencegah hoax yang beredar terkait aksi massa di Papua. Pelambatan akses dilakukan secara bertahap.

Pelambatan akses/bandwidth sudah dilakukan sejak pukul 13.00 WIT. Mulai malam ini (kemarin malam) waktu setempat, akses telekomunikasi sudah dinormalkan.

"Sehubungan dengan situasi di wilayah Papua sudah kondusif, maka mulai malam ini, pukul 20.30 WIT, akses telekomunikasi sudah dinormalkan kembali. Dapat kami sampaikan bahwa tujuan dilakukan throttling adalah untuk mencegah luasnya penyebaran hoaks yang memicu aksi," ujar Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemkominfo RI Ferdinandus Setu dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (19/8/2019).

Kominfo sudah mendeteksi 2 hoax terkait aksi massa yang terjadi, yaitu hoax foto warga Papua tewas dipukul aparat di Surabaya dan hoax Polres Surabaya menculik 2 pengantar makanan untuk mahasiswa Papua. Kominfo mengimbau masyarakat tidak sembarangan menyebar hoax.

"Kemkominfo imbau masyarakat untuk tidak sebarkan hoaks, disinformasi, ujaran kebencian berbasis SARA yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa kita," ujar Ferdinandus. (*/lip6/dc)

Komentar

Tampilkan

  • Aksi Massa Manokwari dan Jayapura Dipicu Konten Rasis di Media Sosial
  • 0

Terkini